Embun Terakhir di Ujung Daun Senja
Langit Tasikmalaya sore itu meredup, menyisakan bias jingga pucat di balik siluet Gunung Galunggung yang berdiri gagah namun menyimpan sunyi. Di sebuah teras rumah kayu beratap genteng tanah liat yang mulai berlumut, Ardi duduk membisu di atas kursi roda. Napasnya terdengar berat, memburu pelan, berkejaran dengan detik jam dinding berbandul yang setia berdetak mengisi keheningan. Di tangannya, sehelai syal rajut berwarna biru tua—warna laut yang selalu dirindukan sahabatnya—digenggam erat, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menahan raganya agar tidak hanyut dalam keabadian.
Di sampingnya, Galih berdiri menatap hamparan sawah yang mulai menguni...