Jujur aja, saat itu yang membuat aku kesal, yah, bukan karena dia lesbian. Kalau dipikir-pikir sekarang, itu justru lebih ke rasa "Kok bisa?"
Asal kalian tahu, itu rasanya macam ada bagian dari cerita yang ternyata selama ini aku kurang paham. Saking kesalnya, aku sampai terus mengutuk cewek itu. Masih tak habis pikir.
Apalagi kalau ingat, sebelum putus, aku cenderung santai aja.
"Yaelah, aman, lah," pikir aku dulu.
Mereka hanya nongkrong di club. Hanya sekadar curhat antar cewek. Hanya sekadar video call, yang saat itu, menurut aku, biasa-biasa s...