Gadis Lembah Tsang Po

Oleh: Novia SR

Tibet, 1975

Gadis belia itu bernama Tritsun. Gadis dengan bola mata berkabut yang menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan berkelana di Dataran Tinggi Tibet. Ayahnya baru saja meninggal beberapa hari lalu akibat sakit paru-paru yang diidapnya. Ayah yang selalu mendampingi hari-harinya meskipun tanpa seorang ibu. Ya, ibu adalah sosok yang belum pernah ia temui seumur hidup.

Tritsun masih ingat saat potongan-potongan tubuh ayahnya diantarkan ke pegunungan, beberapa kilometer dari tempat mereka menetap. Lalu tubuh ayahnya yang sudah jadi mayat itu disantap oleh sekawanan burung pemakan bangkai. Memang begitulah tradisi mereka.

"Kek, kenapa orang yang mati harus diperlakukan begitu buruk dan menyakitkan?" tanya Tritsun lirih.

Kakek Congka yang duduk di sampingnya menoleh. Ada luka pada raut wajah cucunya itu. Ah, gadis belia dengan bola mata berkabut itu sangat sering membuatnya bingung.

Sejenak lelaki tua itu menarik napas berat. "Kenapa kamu bicara begitu, Tritsun? Bukankah itu sudah biasa kita saksikan? Setiap orang yang mati memang harus begitu sebab itu kemuliaan bagi kita, kecuali mayat para D...

Baca selengkapnya →