GADIS TALANG AKAR

Oleh: Amrullah Ibrahim

GADIS TALANG AKAR

Cinta yang Tumbuh Sebelum Sempat Berakar

Namaku Ghalib.

Aku seorang CEO muda yang bergerak di bidang usaha teknologi komunikasi. Kantorku berdiri di salah satu gedung pencakar langit di Jakarta, dengan pemandangan jalan raya yang tak pernah benar-benar tidur. Setiap hari, aku dikelilingi rapat, laporan keuangan, proyek jaringan komunikasi, dan orang-orang yang berbicara tentang keuntungan.

Hidupku terlihat sempurna.

Usia masih muda, perusahaan berkembang pesat, rumah nyaman, kendaraan mewah, dan seorang asisten pribadi bernama Afnan yang selalu siap mengatur segala keperluanku.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah kumiliki.

Ketenangan.

Sampai suatu pagi, ayahku, Haji Mahmud, memintaku melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah masuk dalam rencana hidupku.

“Ghalib,” katanya melalui telepon, “Ayah ingin kamu pergi ke Talang Akar.”

“Talang Akar?” Aku mengernyitkan dahi. “Untuk apa, Yah?”

“Untuk mengurus makam kakek buyutmu.”

Aku terdiam.

Kakek buyutku telah lama meninggal. Aku bahkan hampir tidak memiliki kenangan tentang beliau. Yang kuketahui hanyalah namanya sering disebut dalam doa ayah dan keluarga besar.

“Ayah ingin makam beliau dipugar,” lanjut ayah. “Sudah lama tidak diperbaiki. Batu nisannya mulai rusak, pagar makamnya juga sudah lapuk.”

“Ayah bisa meminta orang lain mengurusnya.”

“Bisa,” jawab ayah tenang. “Tapi Ayah ingin kamu sendiri yang datang.”

Aku menghela napas.

“Yah, aku sedang banyak pekerjaan.”

“Pekerjaanmu tidak akan habis, Ghalib. Tapi kesempatan berziarah dan mengenal asal-usul keluargamu belum tentu datang dua kali.”

Kata-kata itu membuatku diam.

Ayah jarang memintaku melakukan sesuatu untuk kepentingan pribadi. Selama ini, beliau selalu mendukung pekerjaanku. Maka ketika kali ini beliau meminta dengan sungguh-sungguh, aku tidak sanggup menolaknya.

“Baiklah,” kataku akhirnya. “Aku akan pergi.”

“Bawa Afnan jika perlu. Hubungi Haji Faris Ramadhan ketika sudah sampai. Beliau akan membantumu di sana.”

“Siapa Haji Faris?”

“Orang baik di Talang Akar. ...

Baca selengkapnya →