Gara-gara Empal Genting Eh Gentong

Oleh: Chrystina Yohana Limas

“Nama gue Rana, orang bilang gue harusnya kapok atau paling gak kena karma atau bahasa Jawanya tuman* karena gak dengerin omongan orangtua. Yaelah kalau menurut gue sih lebay karena yang gue alami justru keberuntungan, hehehe. Keberuntungan itu ada di depan mata gue sekarang. Emang apaan sih?”

“Yes, lo semua kudu se circle sama gue. Keberuntungan gue itu bukan benda tapi sosok ganteng dengan lesung pipit mirip Lee Chae Min yang sedang memandang gue dengan sorot mata tajam yang bikin nervous parah. Kok bisa? Jadi ceritanya tuh…”

“Hoaaahem, buset gak ada apa matpel yang lebih gila daripada mempelajari manusia zaman dulu, mana namanya berbau kaum lagi bete*.” ujar Rana sambil menguap lebar selebar kuda nil.

“Lagi bete? Istilah apaan tuh?” Tanya Rika sambil mengerutkan kening.

“Ck…itu kan bahas jenis manusia homo-homo gitu. Ah gak tau deh, males ngapain kita kudu tau segala cara mereka hidup & gaulnya kayak apa. Mending tuh bahas di zaman mereka makanan apa yang enak.” Jawab Rana sambil menopang dagu tanda dia malas.

“Kirain apaan. Lah, salahnya masuk jurusan IPS. Ya pasti belajar ginian lah.” sahut Rika sohibnya Rana sejak MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).

Muka Rana ketekuk sepuluh, dia sudah tidak sabar menunggu jam pulang sekolah karena di otaknya sudah terbayang empuknya daging, babat, kuah kuning gurih, dan taburan kucai, plus rasa pedas cabe kering asli yang pedasnya melebihi mu...

Baca selengkapnya →