“Permisiiii . . .!!!”
Suara pria itu nyaring membelah pagi. Ia melongokkan kepalanya ke sela-sela pagar tinggi kokoh berwarna coklat itu. Mana sih belnya ini? gerutunya. Karena tak kunjung menemukan bel, ia berteriak lagi lebih kuat: “Permisiiii!!”
Tak ada jawaban dari rumah besar berwarna putih itu.
Temannya, seorang pria tinggi kurus di atas sebuah sepeda motor, membunyikan klakson kendaraannya beberapa kali.
Tak ada pertanda akan datangnya jawaban dari rumah itu. Ia tetap diam, kokoh, megah, namun tuli.
“Gedor aja pagarnya!” sang pria di atas seped...