Gerbang Pintu Jati Purba

Oleh: Amrullah Ibrahim

BAB I: BISIKAN DARI RIMBA YANG TERLUPAKAN

Ketika kabut senja menyembunyikan rahasia berabad-abad, dunia fana perlahan melipat tirainya, membiarkan bayang-bayang kelabu menelan garis cakrawala.

“Ada pohon-pohon yang tidak sekadar tumbuh meminum hujan bumi, melainkan menjaga batas antara apa yang nyata dan apa yang dirahasiakan semesta.” — Catatan Sang Pengembara, Lembar ke-108

Kaki pengembara itu—Jawwabul Afaq wal Ghabat—telah melintasi ribuan mil tanah berbatu yang tandus, menyeberangi padang ilalang beracun di utara, serta memanjat puncakan gunung es yang mematikan. Namun, baru kali ini, di batas terluar hutan tua yang tak pernah tercantum dalam peta mana pun di seluruh benua fana, ia merasakan bahwa udara yang masuk ke dalam paru-parunya membawa degup yang sepenuhnya berbeda. Udara itu tebal, berat oleh aroma tanah lembap yang basah oleh humus berusia ribuan tahun, bercampur dengan keharuman minyak atsiri alami dan keheningan yang bernapas.

Batang-batang pohon jati raksasa berdiri menjulang tinggi menembus batas kanopi, laksana pilar-pilar katedral alami yang dibangun oleh jemari makhluq purba sebelum sejarah manusia sempat dituliskan. Daun-daun lebarnya yang kaku dan tebal menyaring sinar matahari senja yang kian meredup, membiaskannya menjadi berkas-berkas cahaya perak kehijauan yang jatuh pelan di atas lantai hutan. Di sini, waktu seolah kehilangan detaknya; jam pasir alam semesta berhenti membuang butiran pasirnya.

Kabut tipis berwarna putih keabu-abuan merayap pelan di antara jalinan akar-akar gergasi. Akar-akar itu bertonjolan di atas tanah bagaikan punggung naga tanah yang terlelap, mencengkeram bumi dengan keabadian yang tak tergoyahkan. Tidak ada kica...

Baca selengkapnya →