Gerimis Di Senyummu

Oleh: Dimas Hendra

Malam itu, ia kembali. Bukan sebagai badai yang mengobrak-abrik tidurku, melainkan sebagai gerimis yang lembut dan samar, persis seperti yang selalu kurindukan di tengah kemarau. Mimpi itu bukanlah ruang gaduh yang dipenuhi jerit perpisahan, melainkan jeda yang hening, di mana waktu mundur ke masa yang tak pernah benar-benar kutinggalkan. Kami tinggal serumah, menjalani rutinitas yang dulu terasa biasa saja, namun kini menjadi monumen kehangatan ...

Baca selengkapnya →