Sangkar Emas di Belantara Megapolitan
Ketika kemewahan tak lagi sanggup mengobati dahaga jiwa akan ketulusan
✦ ✦ ✦
"Kekayaan sanggup membeli ranjang berlapis sutra terbaik, namun tak pernah mampu menebus sebutir pun rasa tenang di dada."
Lampu-lampu gantung kristal Bohemian di ballroom hotel bintang lima itu berpendar kemilau, memantulkan bayang-bayang ratusan tamu kelas atas yang berbusana adibusana. Denting gelas sampanye beradu dengan tawa renyah yang terdengar terlalu terlatih, tersusun rapi seolah telah dipoles oleh konsultan citra publik. Di sudut teras marmer yang langsung menghadap hamparan belantara beton Jakarta, seorang pemuda berdiri menyendiri, memegang segelas sari apel tanpa niat menyesapnya.
Fardhan Al-Fathir, dua puluh lima tahun, memiliki nyaris segala hal yang dijadikan takaran keberhasilan duniawi oleh khalayak ramai. Wajahnya tampan dengan rahang tegas yang memikat, tubuhnya tinggi atletis terlatih, dan latar pendidikannya terukir dari universitas terkemuka di Benua Eropa. Di atas segalanya, ia menyandang nama besar Al-Fathir—sebuah imperium properti dan investasi yang menguasai puluhan gedung pencakar langit dan kawasan hunian premium di seantero negeri. Sebagai putra tunggal, masa depannya telah digarisi emas: ia adalah pewaris mutlak tahta bisnis keluarga.
Namun malam itu, di tengah alunan quartet biola yang mendayu-dayu, dada Fardhan justru didera sesak yang teramat pekat. Ada hampa yang menganga lebar di balik setelan tuksedo buatan Savile Row yang membalut tubuhnya. Baginya, setiap senyuman manis yang diarahkan kepadanya malam ini hanyalah transaksi terselubung. Putri-putri konglomerat, model papan atas, hingga pewaris mitra usaha ayahnya silih berganti mendekatinya dengan tutur kata manis yang telah dihitung matang untung-ruginya. Mereka tidak sedang memandang Fardhan sang manusia; mereka sedang menatap persentase saham, dividen tahunan, dan gengsi sosial yang melekat di belakang namanya.
Sikap dingin Fardhan terhadap lawan jenis bukanlah lahir dari kebencian. Sebaliknya, sikap itu adalah benteng pertahanan terakhir dari jiwa yang rindu akan ketulusan murni. Sejak remaja, ia telah menyaksikan betapa topeng kepalsuan begitu diagungkan di lingkungannya. Ayahnya, Haji Ghalib Al-Fathir, selalu mendiktekan bahwa hidup adalah arena catur di mana perasaan harus ditundukkan di bawah perhitungan kalkulasi aset. Ibunya, Hajjah Hanifah, sibuk memilah deretan profil calon menantu dari lingkar ningrat bisnis Jakarta.
Fardhan menatap ke bawah, ke j...