Hari-Hari Biasa Yang Terakhir

Oleh: Indra Afriza Arsad

Rumah kontrakan masih gelap ketika Pak Surya terbangun. Dia bergerak perlahan agar tidak sampai membangunkan Dimas, putranya, di kamar sebelah. Apalah daya, tembok bilik yang tipis dan rangka kasur yang sudah tua dan berkarat membuat kesunyian jadi sesuatu yang musykil. Di dapur yang sempit dia mulai mengisi air ke ketel, menakar bubuk kopi yang masih tersisa dalam toples, dan menghitung sisa uang dalam kaleng biskuit. Dua puluh lima ribu tujuh ratus rupiah. Masih cukup untuk ongkos bus dan makan irit di Warteg, jika dia melewatkan jatah kopi untuk makan siang nanti.  

Dia mulai menyiapkan sarapan: dua potong roti tawar sisa kemarin malam, ditaburi sedikit gula, lalu dipanggang sebentar. Dua potong roti itu kemudian dia lipat dan dipotong lagi jadi dua bagian, menghasilkan empat potong roti – dua potong untuk sarapan, dua potong lagi dia masukkan ke kotak bekal makan siang D...

Baca selengkapnya →