"Apa penantian ini rasanya sia-sia, Tuhan?"
Setetes demi tetes air mata menetes dari pelupuk air mata si perempuan berambut panjang tersebut. Kitab suci itu sekonyong-konyong basah karena air matanya.
"Bukannya aku mau nyerah gitu aja, yah ... cuman aku tahu diri. Capek sih rasanya, dibela-belain buka hati aku cuma buat cowok itu, eh tapi ..."
Perempuan itu bangkit dari tempat tidur. Sembari berjalan ke arah rak bajunya, ia melepaskan ikat rambutnya. Di sana, di salah satu ra...