Di sebuah apartemen, seorang wanita bersembunyi dalam gelap. Ia duduk termenung menatap jendela tanpa kelambu. Tangannya memeluk erat kedua lututnya, tenggelam dalam kesendirian, keputusasaan, dan kesedihan. Namun cahaya bulan merengkuhnya, berusaha menghiburnya dengan sinarnya yang hangat dan lembut.
Sangat disayangkan, manusia tetaplah manusia. Mereka sengaja lupa dan tak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Tak peduli pada benda mati, begitu pula pada benda hidup, yang mereka pedulikan hanyalah diri sendiri, termasuk wanita itu. Sinar bulan belum sanggup menyadarkan lamunan wanita itu, namun bulan tak menyerah begitu saja. Bulan masih berusaha merangkulnya dengan cahaya yang begitu murni. Sorotan cahaya bulan, membuat warna rambut pirang wanita itu berkilauan. Namun tidak pada wajahnya, sorot matanya seakan telah mati, ada lebam tepat di bawah kedua matanya.
Bulan merasa lega, ketika wanita itu menatapnya dengan senyuman. Walau bulan tahu, bahwa senyumnya hanya kepalsuan, bulan berharap, pelukannya dapat menjadi secercah harapan agar wanita itu tak hanyut diseret sepi dan lalu mati. Kesedihan, penderitaan, keputusasaan yang disebabkan...