"Kau yakin ingin lembur lagi, Hana?"
Aku mengangguk, menghentikan gerakan tangan yang tengah memilah tumpukan sumpit sembari membalas matanya yang memandangiku dengan tatapan prihatin.
"Sepuluh hari ini kau selalu menambah jam kerja, Hana. Aku khawatir ...."
"Aku baik-baik saja, Ran."
Sebagai sahabat, aku paham kekhawatirannya. Namun, apa boleh buat, Rani boleh saja menggunungkan seribu satu kekhawatiran, tetapi masalah yang kuhadapi akhir-akhir ini hanya bisa diselesaikan dengan uang.
"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja."
Di pabrik yang memproduksi sumpit sekali pakai berbahan bambu ini, Rani beke...