“Kamu sudah melamar dimana lagi, Qal?”
Aku menghentikan gerakan tanganku sebentar. Tetapi, kemudian aku tetap menganduk minuman coklatku. Tanpa mengangkatkan kepala, aku menjawab, “Belum, Mah. Dua minguan yang lalu, sih, aku semangat mengirimkan lamaran. Tapi, belum ada yang menghubungi lagi.”
Mama menganggukkan kepala. Orang tidak akan mampu menebak isi pikirannya, jika hanya melihat raut wajah datarnya. Jangankan orang lain, aku saja y...