Jejak yang Tak Pernah Hilang
Pagi itu, kabut masih menyelimuti halaman belakang rumah tua itu saat Rian membuka lemari kayu berukir yang sudah berdiri di sudut ruangan lebih dari tiga puluh tahun. Bau kertas tua, kayu cendana, dan sedikit aroma tanah lembap langsung menyambut hidungnya, membawa ribuan kenangan yang sempat terkubur oleh kesibukan masa kini. Di bagian paling bawah lemari, tersembunyi di balik tumpukan kain sarung usang, ada sebuah kotak kulit berwarna cokelat gelap yang sudah mulai mengelupas di bagian sudutnya. Di atas tutupnya terukir huruf nama dengan tinta emas yang memudar perlahan dimakan waktu: Bapak, 1994.
Tangan Rian terasa din...