Aku mengunci pintu kamar kos dan lekas menaiki motor tua peninggalan Bapak. Baru juga menstater mesin motor, tiba-tiba ada yang memanggil.
"Mau mudik, Ris?" Tanya Rohman, salah satu tetangga kosku. Lelaki bertubuh tinggi tegap itu bediri di ambang pintu, menatapku dengan tatapan yang ... entah. Aku sendiri tidak bisa mengartikan.
Dia memang sedikit tertutup, bahkan jarang berinteraksi dengan tetangga yang lain.
"Iya, Mas. Mumpung besok libur panjang. Lumayan buat temenin Ibu di rumah," jawabku dengan senyum ramah.
"Hati-hati aja. Sudah mau maghrib," katanya mengingatkan.
"Iya, Mas. Mari ... aku duluan, ya," pamitku. Lalu menarik gas dan melaju dengan kecepatan sedang.
Sepanjang jalan, aku memikirkan pe...