KALA: Perjalanan Terakhir

Oleh: P12

​Jakarta pukul satu pagi adalah belantara beton yang tidak ramah, terutama saat hujan turun seperti ribuan jarum dingin yang menghujam bumi. Gion berdiri di bawah halte bus yang lampu neonnya berkedip sekarat, mengeluarkan suara mendengung yang memekakkan telinga. Ia berkali-kali menyeka layar ponselnya yang basah, berusaha mencari tumpangan.

​"Sial! Semuanya sibuk!" umpatnya pelan.

​Gion tidak punya banyak waktu. Di ujung jalan, ia bisa melihat sorot lampu motor yang bergerak pelan—para penagih utang dari arena judi online tempat ia baru saja kalah besar. Mereka bukan tipe orang yang akan menerima kata "maaf" sebagai cicilan. Gion harus menghilang malam ini juga.

​Saat keputusasaan mulai mencekik, ponselnya bergetar panjang. Sebuah getaran yang terasa aneh, lebih seperti detak jantung daripada motor elektrik. Di layarnya yang retak, sebuah aplikasi yang tidak pernah ia unduh terbuka secara otomatis. Ikonnya hanya berupa lingkaran hitam dengan garis-garis halus yang berputar, menyerupai jam pasir yang rusak.

​KALA. Begitu nama yang tertera di sana.

​Tanpa logo perusahaan besar, tanpa promo diskon, hanya sebuah pertanyaan singkat di layar: “Ke mana tujuan akhir Anda?”

​Gion tidak peduli lagi soal privasi atau k...

Baca selengkapnya →