BAB 1 — LARAS
Namaku Laras.
Usiaku enam puluh tahun.
Dan selama enam puluh tahun hidupku, aku selalu percaya bahwa menjadi istri yang baik berarti harus mampu bertahan dalam keadaan apa pun.
Aku salah.
Aku baru menyadarinya ketika sudah terlambat.
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar naik, aku sudah berada di dapur.
Tanganku yang mulai keriput sibuk menyiapkan sarapan.
Nasi, telur, sayur, kopi.
Semuanya harus tersedia sebelum suamiku bangun.
Bukan karena dia memintanya.
Tapi karena selama puluhan tahun, aku terbiasa melakukannya.
“Masih kerja juga?”
Suara suamiku terdengar dari ruang makan.
Aku keluar membawa secangkir kopi.
“Sebentar lagi selesai.”
Dia duduk santai sambil memainkan ponselnya.
Namanya Adrian.
Suamiku.
Lelaki yang kunikahi ketika usiaku dua puluh lima tahun.
Dulu aku pikir dialah rumahku.
Aku bahkan rela bekerja keras demi dirinya.
Ketika dia ingin membuka usaha, aku ikut membantu.
Ketika usahanya bangkrut, aku menjual perhiasanku.
Ketika dia ingin membeli rumah, aku mengambil lembur.
Ketika anak-anak membutuhkan biaya sekolah, aku yang mencari tambahan penghasilan.
Aku tidak pernah menghitung berapa banyak yang kuberikan.
Karena kupikir...
pernikahan memang seperti itu.
Saling berkorban.
Sampai suatu hari aku menyadari bahwa yang berkorban hanya aku.
Adrian menyesap kopinya.
“Besok jangan lupa transfer uang ke rekeningku.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Keperluan kantor.”
Aku mengangguk.
“Berapa?”
“Lima juta.”
Aku hampir tertawa.
Lima juta.
Dulu angka itu sangat besar bagiku.
Sekarang pun masih besar.
Tapi entah kenapa, Adrian selalu punya kebutuhan.
Dan aku selalu menjadi orang yang harus memenuhinya.
“Laras.”
“Hm?”
“Jangan lupa juga bayar tagihan rumah.”
Aku diam.
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Aku ingin bertanya...
Kalau aku tidak ada, siapa yang akan membayar semuanya?
Tapi seperti biasa, aku hanya menjawab,
“Iya.”
Adrian kembali menatap ponselnya.
Aku berbalik menuju dapur.
Tidak ada ucapan terima kasih.
Tidak ada pertanyaan apakah aku lelah.
Tidak ada perhatian sedikit pun.
Aku sudah terbiasa.
Terlalu terbiasa.
Siang harinya aku masih bekerja.
Usiaku memang enam puluh, tetapi aku belum benar-benar bisa berhenti.
Teman-temanku sudah banyak yang menikmati masa tua.
Ada yang bepergian bersama anak.
Ada yang merawat cucu.
Ada yang duduk santai di rumah.
Sedangkan aku?
Masih mengejar uang.
Bukan karena aku miskin.
Justru karena selama bertahun-tahun, aku terlalu sibuk membuat hidup orang lain nyaman.
Aku baru pulang menjelang malam.
Begitu membuka pintu rumah, aku mendengar suara tawa.
Suara perempuan.
Aku berhenti.
Ada dua pasang sepatu di ruang tamu.
Sepasang milik Adrian.
Dan sepasang lagi...
bukan milikku.
Aku berjalan perlahan.
Lalu kulihat mereka.
Adrian duduk di sofa.
Di sebelahnya ada seorang perempuan muda.
Cantik.
Rambut panjang.
Kulitnya masih mulus.
Dan yang paling menyakitkan...
perempuan itu mengenakan gelang yang dulu kubeli menggunakan uang hasil lemburku.
Gelang yang kuberikan kepada Adrian sebagai hadiah ulang tahun.
Adrian langsung berdiri ketika melihatku.
“Laras.”
Aku tidak menjawab.
Perempuan muda itu juga berdiri.
“Maaf, Tante.”
Tante.
Aku hampir tertawa.
Tante?
Aku menatap Adrian.
“Dia siapa?”
Adrian diam.
Perempuan itu justru menjawab.
“Saya Naya.”
Aku menatapnya dari atas sampai bawah.
“Pacarnya suamiku?”
Wajah Naya berubah.
Adrian menghela napas.
“Jangan mulai drama.”
Aku terdiam.
Drama?
Aku yang pulang ke rumah sendiri disebut membuat drama?
“Mas.”
Aku menatapnya.
“Ini rumahku juga.”
“Ya.”
“Jadi aku berhak bertanya.”
Adrian mengusap wajahnya.
Kemudian dia berkata pelan,
“Naya akan tinggal di sini.”
Dunia seperti berhenti.
Aku memandangnya.
“Apa?”
“Naya sedang hamil.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Hening.
Sangat hening.
Lalu aku tertawa.
Bukan karena lucu.
Tapi karena kalau aku tidak tertawa, mungkin aku akan menangis.
“Selama ini…”
Suaraku bergetar.
“Selama ini aku bekerja seperti orang gila untuk siapa?”
Adrian tidak menjawab.
Aku melihat rumah itu.
Rumah yang cicilannya kubayar.
Perabotan yang kubeli.
Dapur yang setiap pagi kugunakan.
Foto pernikahan kami yang masih tergantung di dinding.
Aku menatap semuanya.
Ternyata rumah yang kubangun selama puluhan tahun...
akan dinikmati perempuan lain.
Sementara aku?
Aku hanya dianggap pengganggu.
Aku berjalan menuju kamar.
Tanganku gemetar...