Malam itu jalanan panjang seperti nasib yang belum lunas. Lampu-lampu truk berderet seperti doa yang belum tentu sampai. Rudi menggenggam setir dengan tangan yang lebih hafal getaran as roda daripada hangatnya tangan anaknya sendiri.
Sudah sebelas jam dia nyetir.
Kopi sachet ketiga baru setengah diminum.
Perutnya kosong, tapi muatannya penuh — terlalu penuh malah.
“Masih kuat kan, Di?” suara kernetnya tadi siang.
Rudi cuma ketawa kecil.
Di dunia sopir, “kuat” itu bukan soal fi...