Saat kau mulai berani memutar gagang pintu, melangkah keluar kamar, dan mampu menatap lekat-lekat sosok pencabut nyawamu di sofa ruang tamu, berarti kau sudah siap mati.
Pertanyaannya, seperti apa rupa mayatmu nanti?
Seberapa keren judul artikel kematianmu di media massa?
Siapa saja yang hadir dan menangis di pemakaman?
Tapi itu pun kalau nanti jenazahmu bisa ditemu orang, Ger. Kalau kau dimutilasi? Dibakar? Dibuang ke laut? Dicelup cairan asam? Bagaimana?
Ah, peduli setan!
Fokus! Mantapkan niatmu, Ger. Yakin! Enggak ada mundur!
Tapi patut diakui, rasanya ganjil betul. Setelah konsisten aman sebagai nomadik berbulan-bulan, bagaimana bisa unit sewa murah-meriah yang baru kau pakai mandi dan berak sepekan belakangan inilah bakal tempat terakhirmu bernapas. Kurang keren! Sial!
Coba pikirkan. Kenapa dia bisa tahu kau di sini, Geri? Ayo. Berpikir. Apa mungkin ada anak studio yang berkhianat?
Ah, mungkin saja. Benar juga. Hari ini tepat sebulan sejak kau putuskan menekan tombol unggah berwarna merah itu seorang diri. Masa bodoh teguran anak-anak.
Tapi rasanya keputusanmu sudah tepat. Buktinya, esai videomu viral lagi. Menteri-menteri mesum ...