Ketika Cinta Lama Menemukan Jalannya Kembali
“Ada cinta yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali, dengan hati yang lebih dewasa dan perasaan yang jauh lebih dalam.”
PROLOGSurat yang Tidak Pernah Terkirim
Malam itu hujan turun perlahan di kota yang telah lama kutinggalkan.
Aku duduk di dekat jendela kamar, memandangi titik-titik air yang berkejaran di kaca. Di atas meja, secangkir kopi mulai dingin. Sebuah buku catatan lama terbuka di hadapanku, memperlihatkan tulisan tangan yang sudah tidak asing lagi.
Tulisan itu milikku.
Namun, isi halaman tersebut bukan tentang pekerjaan, bukan tentang rencana masa depan, dan bukan pula tentang kehidupan yang sedang kujalani.
Itu adalah catatan masa SMA.
Catatan tentang seorang gadis bernama Susilawati.
Aku menyentuh halaman yang menguning itu dengan ujung jari. Di sana tertulis sebuah kalimat yang pernah kutulis bertahun-tahun lalu:
"Susi, kalau suatu hari nanti kita bertemu kembali, aku ingin mengatakan sesuatu yang dulu tidak pernah sanggup kukatakan."
Aku tersenyum getir.
Bertahun-tahun telah berlalu sejak aku menulis kalimat itu. Masa SMA telah menjadi bagian dari masa lalu. Sekolah tempat kami belajar mungkin telah berubah. Teman-teman kami telah menempuh kehidupan masing-masing. Dan Susilawati...
Aku tidak tahu di mana ia berada.
Aku tidak tahu apakah ia masih mengingatku.
Aku tidak tahu apakah kenangan tentang perjalanan pagi dan sore kami masih tersimpan di dalam hatinya.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bahwa masa lalu sedang mengetuk pintu kehidupanku.
Ponselku yang terletak di samping buku tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari grup alumni SMA.
Fardhan: Teman-teman, jangan lupa reuni SMA bulan depan. Kita adakan di sekolah lama. Semoga semuanya bisa hadir.
Aku membaca pesan itu sambil tersenyum.
Reuni.
Sekolah lama.
Teman-teman yang telah lama tidak kutemui.
Dan mungkin...
Susilawati.
Aku tidak tahu apakah ia akan datang.
Namun, malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku kembali memikirkan sebuah nama dengan perasaan yang sama seperti dulu.
Susilawati.
Gadis yang pernah menjadi bagian terindah dari masa SMA-ku.
Gadis yang kusukai dalam diam.
Gadis yang tidak pernah mendengar kata cinta dariku.
Aku menutup buku catatan itu perlahan.
Di luar, hujan masih turun.
Dan di dalam hati, sebuah harapan kecil mulai tumbuh.
Mungkin, setelah bertahun-tahun, takdir akan mempertemukan kami kembali.
---
BAB I - PUTIH ABU-ABU DAN AWAL SEBUAH RASA
1.1 Namaku Yafiq Al-Ghifari
Namaku Yafiq Al-Ghifari.
Aku adalah seorang siswa SMA jurusan IPA yang sangat menyukai pelajaran Biologi.
Sejak kecil, aku selalu tertarik pada kehidupan. Aku senang memperhatikan tumbuhan yang tumbuh di halaman rumah, mengamati serangga yang berjalan di atas daun, dan membaca buku tentang tubuh manusia.
Bagiku, Biologi bukan sekadar pelajaran yang harus dipahami demi mendapatkan nilai bagus.
Biologi adalah ilmu yang membuatku semakin kagum kepada Sang Pencipta.
Aku senang mengetahui bagaimana jantung memompa darah, bagaimana tumbuhan melakukan fotosintesis, dan bagaimana setiap makhluk hidup memiliki keunikan masing-masing.
Guru Biologi kami, Pak Rahman, sering mengatakan bahwa aku memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
"Yafiq, kamu ini kalau sudah belajar Biologi, lupa waktu," katanya suatu hari.
Aku tertawa.
"Karena menarik, Pak."
"Bagus. Pertahankan. Tapi jangan sampai pelajaran lain ditinggalkan."
"Siap, Pak."
Aku memang bukan siswa yang selalu mendapatkan nilai tertinggi di semua pelajaran. Namun, aku berusaha menjadi siswa yang baik, menghargai guru, dan membantu teman ketika mereka membutuhkan.
Teman-temanku mengenalku sebagai seseorang yang cukup pendiam, tetapi mudah diajak berteman.
Mereka juga sering bercanda tentang penampilanku.
"Yafiq, kalau kamu terus senyum begitu, banyak yang jatuh cinta nanti," kata Kamil, salah seorang sahabatku.
Aku hanya tertawa.
"Jangan mengada-ada."
"Serius. Wajahmu tampan, orangnya baik. Tinggal berani bicara sama perempuan."
Fardhan yang duduk di sebelahnya ikut tertawa.
"Nah, itu masalahnya. Yafiq kalau soal Biologi bisa menjelaskan panjang lebar. Tapi kalau soal cinta, satu kalimat saja susah."
Yafiq yang lain? Tidak. Aku hanya bisa menggeleng.
Mereka benar.
Aku memang sulit memberikan kata cinta kepada seorang gadis.
Bukan karena aku tidak pernah memiliki perasaan.
Justru sebaliknya.
Aku pernah menyukai seseorang.
Seseorang yang membuat hari-hari SMA-ku terasa jauh lebih indah.
Namanya Susilawati.
1.2 Pertemuan yang Sede...