Kidung Rembulan di L

Oleh: Amrullah Ibrahim

Pertemuan pertama yang mengubah segalanya di hamparan ladang gandum keemasan di bawah naungan sinar rembulan purnama panen raya. Dua jiwa yang sunyi dipertemukan oleh desiran angin malam yang hangat, menyadari bahwa takdir telah menyatukan mereka dalam sebuah kisah cinta suci yang tertulis di bintang-bintang—cinta yang terasa seperti pelukan hangat yang menenangkan jiwa saat dunia sedang terasa dingin.

----------------------------------------------------------------------------------------------

TOKOH UTAMA:

- Bayu Anggoro (Perjaka Desa & Penjaga Ladang Gandum): Pemuda bersahaja berjiwa teguh, jujur, dan berhati teduh yang mengabdikan hidupnya menjaga warisan tanah leluhur dengan segenap keringat dan kasih.

- Kirana Laksmi (Gadis Penenun dari Seberang Kali): Gadis desa bermata telaga jernih dengan senyum menyejukkan, penenun kain sutra dan pemetik bunga malam yang memiliki ketabahan hati tiada tara.

LATAR: Lembah Arga Wilis di bawah cahaya rembulan purnama panen raya, di antara desiran jutaan bulir gandum keemasan yang terhampar luas.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀

Bagian I: Desau Angin dan Hamparan Emas di Ujung Senja

Ketika aroma bulir matang memanggil langkah-langkah yang rindu ketenangan

─── 🌹 ───

Kutipan: "Di tanah tempat akar-akar merengkuh bumi, angin senja selalu meniupkan kabar tentang sesuatu yang sedang dinantikan oleh jiwa yang sunyi."

  Musim kemarau telah mencapai puncaknya di Lembah Arga Wilis. Langit senja menggantung seperti bentangan kain beledu yang dicelup dalam lelehan tembaga, jingga menyala, dan lembayung tua yang anggun, perlahan-lahan menepis sengatan terik matahari yang seharian penuh memanggang ubun-ubun bumi pertiwi. Di bawah kubah cakrawala yang begitu lapang dan tak bertepi, terhampar permadani ladang gandum keemasan yang membentang seluas mata memandang, menuruni undakan perbukitan dan meliuk mengitari aliran sungai berbatu di kaki lembah. Setiap bulir gandum itu kini telah montok, ranum, dan menunduk berat oleh berkah kematangan, seakan-akan merunduk khusyuk menghaturkan sembah syukur kepada sang pencipta alam. Di antara jutaan batang yang saling bergesekan, udara mengembuskan wangi khas tanah kering yang berpadu dengan manisnya getah bulir gabah masak—sebuah aroma kemakmuran yang bagi orang-orang desa terasa jauh lebih berharga daripada timbunan intan permata manapun di muka bumi.

  Bayu Anggoro berdiri mematung di pematang tertinggi, menyandarkan kedua lengannya yang legam dan berotot terpanggang matahari pada sebatang tongkat kayu jati tua warisan kakeknya. Topi caping anyaman daun pandan telah ia tanggalkan dan ia selipkan di pinggangnya, membiarkan angin lembah yang sejuk membelai keningnya yang masih bersimbah peluh dan mengacak-acak rambut hitamnya yang ikal tebal. Usianya baru genap dua puluh dua tahun, namun gurat-gurat ketegaran dan kedewasaan telah terpahat dengan sangat nyata pada rahangnya yang kokoh dan sepasang alisnya yang tebal menaungi mata cokelatnya yang teduh. Sebagai perjaka tertua di keluarganya, dialah yang kini memikul tanggung jawab penuh atas belasan petak ladang pusaka peninggalan almarhum ayahnya. Selama berbulan-bulan yang panjang, Bayu telah menyirami tanah kapur ini dengan cucuran keringat dari fajar hingga senja, melindunginya dari serbuan kawanan burung pipit liar dengan membuat puluhan orang-orangan sawah, serta berjaga berjam-jam saat embun upas yang dingin mengancam pucuk-pucuk tunas muda pada awal musim tanam lalu.

  Kini, segala jerih payah dan letih yang membakar otot-ototnya terbayar lunas tanpa cela. Gandum di hadapannya telah menguning sempurna, berkilauan laksana samudra emas cair yang bergulung-gulung pelan mengikuti irama napas semesta yang tak pernah tergesa-gesa. Namun, anehnya, di tengah kepuasan panen raya yang su...

Baca selengkapnya →