Kisah Ibu

Oleh: Dingu

Terdengar suara ricuh dari kedua anak kembarku yang sejak tadi ga henti berlarian sambil saling mengejek. Mungkin karena mereka sepasang, yah anak pertamaku seorang lelaki yang ku kasih namanya Ethan Wildono. Sementara adiknya yang beda hanya sepuluh menit bernama Inata Wildono. Sebenanrnya Wildono adalah marga dari istriku, sementara aku Johanos. Kalau dipikirkan sangat enak nama mereka jika menggunakan nama belakangku, kek nama bule gitu kali yah. Hahaha.

Aku menatap mereka berdua dengan seorag wanita tua di anatara mereka, sepertinya sedang berusaha meleraikan di kembar yang masih di usia aktf-aktifnya kalau di pikirkan. Dengan seorang wanita yang hanya memiliki beda lima tahun dariku, dia sedang melakukan zoom bersama dengan dosen dan teman-temannya. Padahal udah ku suruh ke kamar atau ke halaman rumah yang tenang, agar dia bisa konsentrasi tapi dirinya menolak mentah-mentah hanya karena ga ingin melewatkan masa pertumbuhan si kembar padahal seharus aku yang mengatakan itu. Adik perempuanku yang manis sekali.

Aku menyisap kopi buatan istriku dengan rasa yang sangat cocok di lidah, ga pahit tapi ga begitu manis. Aku menatap wanita yang nikahi sekitar tujuh tahun lalu itu dengan penuh kebahagiian, dengan hati yang bahagia dan gembia. Rasa syukur selalu ku panjatkan karena diberikan istri yang pintar menjaga diri, merawat anakku, dan bahkan sempat bekerja dengan alasan bahwa ini demi masa kami ke depannya. Aku tidak ingin memkasanya, selama dia masih menjaga merawat si kembar, aku ga begitu masalah.

Sebuah kue di letakkan di meja hadapan ku degan tanagn yang cantik, tangan istriku. Dia tersenyum bahagia dengan wajah yang cantik walaupun sedikit jerawat. Aku ga masalah, aku bisa biayain dia ubtuk menghilangkan jerawat itu jika bisa membuat dia bahagia dan cinta padaku. Ibu pernah berkata;

"Buatlah istrimu bahagia, buatlah istrimu tersenyum dengan tulus, pioritaskan hidup istrimu karena dia yang akan menemani mu dan menjadi ibu dari anak-anakmu. Dia juga merupakan sumber kebahagiaan dan rezekimu, walapun surga seorang istri di kaki suami, tapi seorang suami tidak mendapatkan itu jika istrimu mendapatkan penderitaan selama berumah tangga. Kamu bisa membakti sama ibu tapi lindungi dan pioritaskan istrimu. Jika ibu pergi dipanggil tuhan, istrimulah yang menemanimu hingga hari tua, bukan ibu. Anak-anakmu akan memilik...

Baca selengkapnya →