Langit sore di kota kecil ini selalu tampak seperti lukisan yang memar—campuran warna jingga terbakar, abu-abu jelaga, dan lembayung yang menyiksa mata. Di bawah langit yang sama, seorang remaja laki-laki bernama Arka berjalan pincang menyusuri trotoar retak, membawa ransel penuh buku yang terasa seberat jangkar kapal.
Bagi orang-orang yang melihatnya sekilas, Arka adalah siswa SMA biasa. Seragam putih abunya mungkin sedikit lebih kusam dari yang lain, dan sepatunya sudah menganga di bagian jempol, tetapi ia masih bisa tersenyum. Sebuah senyuman tipis, sopan, namun kosong—senyuman yang ia kenakan setiap hari, seperti topeng porselen yang siap retak jika terkena benturan sedikit saja.
Di dalam rumah berukuran petak di ujung gang sempit, "rumah" bukanlah kata yang melindunginya. Rumah adalah medan perang. Tempat di mana udara terasa beracun, dan setiap suara derap langkah kaki di lantai semen basah berarti ketakutan baru yang harus ditelan mentah-mentah.
"Kau pulang telanjang kaki, bodoh?!" bentakan itu menyambutnya begitu pintu reyot terbuka.
Sebuah piring plastik melayang, menghantam dinding tepat di samping kepala Arka. Remaja itu tidak menghindar. Ia sudah terbiasa. Gerakannya begitu mekanis; ia meletakkan tasnya yang compang-camping, memungut pecahan piring yang berserakan, lalu berbisik dengan suara serak, "Maaf, Ayah."
Kisah ini bukan miliknya.
Atau setidaknya, itulah yang selalu Arka katakan pada dirinya sendiri setiap malam saat ia menatap langit-langit kamar yang bocor. Rasa sakit ini, tangisan ini, luka-luka lebam yang membiru di balik seragam sekolahnya—semua ini terasa terlalu berat untuk dimiliki oleh seorang anak berusia tujuh belas tahun.
Namun, jika ini bukan miliknya, lalu kepada siapa takdir ini sebenarnya ingin ia serahkan?
**
Masa kecil Arka tidak pernah diisi dengan suara tawa riang di bawah terik matahari, ...