Kokoliko duduk termenung di beranda rumahnya yang sederhana. Matanya menatap jauh ke hamparan sawah milik masyarakat lain yang mulai mengering karena musim kemarau.
Sementara dirinya sangatlah miskin, dia tidak memiliki sawah. Gubuk reyot warisan dari ayahnya berdiri di sudut desa yang sangat terpencil, yang tanahnya hanya cukup untuk gubuk mereka yang 4x6 meter saja.
Pikiran berkecamuk di kepalanya. Sudah beberapa bulan ini dia bolak-balik antara kantor desa dan dinas sosial. Semua demi satu tujuan: agar anaknya mendapatkan beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar).
Bukan hanya itu, dia juga berharap mendapatkan bantuan sosial untuk keluarganya yang hidup dalam kesulitan. Namun, setiap usahany...