KOPI HITAM DAN ES TEH LECI DI PERSIMPANGAN SENJA

Oleh: IGN Indra

Empat sore di Jakarta rasanya selalu saja mirip kebohongan yang indah. Matahari, yang sepanjang hari membakar ubun-ubun dengan amarah seorang tiran, tiba-tiba saja melunak tanpa sebab. Warnanya secara bertahap, dari putih-pijar menjadi keemasan yang tumpah ruah di antara gedung-gedung pencakar langit, memandikan jalanan yang letih dengan cahaya yang puitis. Saat itulah aku biasanya duduk di kursi yang sama di kafe yang sama di sudut area Blok M, memandangi persimpangan yang, seingatku tak pernah tidur.

Aku sedang menyeruput kopi hitamku—selalu hitam, tanpa gula, seperti hidup yang senantiasa kuhadapi—ketika ia pertama kali duduk di seberang mejaku tanpa diundang. Bukanlah hal yang aneh di kafe sempit ini untuk berbagi...

Baca selengkapnya →