Kota Bayang dan Upacara Penutupan

Oleh: Muhammad Ibrahim

Debu pada akhirnya selalu memilih untuk pulang. Setidaknya itulah yang dipikirkan Sardi saat ia memandang gedung-gedung setengah jadi yang menjulang seperti rangka-rangka tanpa jiwa. Taman-taman yang dirancang untuk menjadi paru-paru kota hanya berupa lubang-lubang galian yang kini terisi air hujan keruh. Jalanan lebar yang seharusnya ramai oleh kendaraan justru hanya dihuni oleh rumput liar yang tumbuh dari sela-sela aspal yang mulai retak. Ada...

Baca selengkapnya →