KUE CUCUR DAN GADIS SUTRA HIJAU

Oleh: Amrullah Ibrahim

Bab 1: Pesona Sutra Hijau dan Getar Sekeping Cucur

-----------------------------------------------------------------

Namaku Fajri Nadhiri. Masih sendiri, belum mempunyai isteri maupun kekasih hati.

Aku bukan seorang bangsawan termashur, bukan pula pengusaha sukses yang termashur. Aku hanyalah seorang lelaki sederhana dengan satu kegemaran yang menurutku sangat mulia: berburu kuliner kue cucur.

Kalau orang lain mengoleksi jam tangan mewah impor, aku mengoleksi pengalaman mencicipi jajanan pasar. Kalau orang lain gemar nongkrong di kafe berpendingin udara dengan kopi seharga cicilan panci kompor, aku jauh lebih bahagia duduk di warung bambu sederhana sambil memandangi minyak panas di wajan dapur.

Menurutku, makanan tradisional itu punya jiwa dan budi pekerti luhur. Dan sore itu, aku menemukan sesuatu yang membuat jiwaku tidak hanya bergetar, tapi nyaris copot dan terbentur.

Bukan semata-mata karena kue cucurnya. Melainkan karena seorang gadis cantik mempesona.

Sore itu aku sedang duduk di warung jajanan tradisional Mang Gofur yang sudah kesohor di seantero kampung Nyiur. Di depanku terhidang sepiring cenil parutan kelapa bertabur, dua potong getuk lindri, dan tiga keping kue cucur warna cokelat keemasan yang baru saja diangkat dari penggorengan dapur.

Aku sedang asyik memegang kue cucur pertama ketika sekelebat bayangan anggun melangkah masuk melintasi teras warung Mang Gofur.

Aku hampir tersedak ludah sendiri. Nafasku meluncur tertahan di kerongkongan. Astaga naga penunggu sumur!

Gadis itu luar biasa cantik. Bukan cantik dempulan bedak setebal kasur, melainkan kecantikan alami yang menyejukkan pandangan, anggun laksana bangsawan zaman Mataram yang baru saja turun dari kereta kencana mutiara bertabur. Ia mengenakan setelan pakaian mewah berbahan sutra lembut berwarna hijau daun kayu Simpur. Kain sutra itu berkilau halus, meliuk lembut mengikuti gerak langkahnya yang tertata amat teratur.

Rambutnya disanggul modern dengan selipan melati wangi, dan bibirnya melengkungkan senyum tipis ketika ia memilih duduk di salah satu meja kayu jati yang berjarak hanya tiga langkah dari posisiku.

Aku sampai lupa mengunyah cenil. Tanganku membeku memegang kue cucur yang masih hangat berminyak. Mulutku menganga lebar seperti goa penampung lumpur. Mataku terpaku tanpa mampu berkedip secara teratur.

Pelayan warung—si Joko yang badannya tambun dan jalannya mirip kura-kura terbentur—segera datang membawakan sepiring cucur pesanan sang nona sutra hijau.

Gadis itu mengambil sekeping kue cucur dengan jemari lentik yang tampak putih bersih bersinar. Ia tidak langsung melahapnya rakus seperti marmut kelaparan. Tidak! Ia memegang pinggiran berenda yang renyah itu dengan penuh rasa hormat, lalu pelan-pelan menggigit ujungnya yang merekah subur.

Kriuk lembut terdengar. Aku menelan ludah sampai berbunyi gluk di leher.

Entah mengapa cara gadis bersutra hijau itu menyantap kue cucur membuat makanan pasar seharga dua ribu perak itu mendadak tampak seperti jamuan pesta di istana raja-raja luhur!

“Fa...

Baca selengkapnya →