Kunci kamar nomor 10

Oleh: lilla safira alhasanah

Erlian menyandarkan tubuh atletisnya di pembatas balkon lantai dua, membiarkan angin sore menerpa dada bidangnya yang hanya dibalut singlet hitam ketat. Di usia 23 tahun, Erlian tidak terlihat seperti bapak kost pada umumnya. Rahangnya tegas, rambutnya sedikit berantakan karena keringat setelah ia baru saja selesai mengecek tandon air, dan otot lengannya tampak menonjol setiap kali ia menggerakkan tangannya.

Di bawahnya, pemandangan "kebun bunga" miliknya mulai terlihat. Sepuluh pintu kontrakan yang ia kelola adalah magnet bagi para gadis muda di kota ini. Bukan hanya karena fasilitasnya, tapi karena sang pemilik yang seringkali menjadi bahan fantasi mereka.

"Sore, Mas Erlian... kok sendirian aja? Nggak mau mampir ke kamar nomor 4? Aku baru beli kopi enak, lho," suara manja milik Vanya memecah lamunan Erlian. Vanya keluar dengan daster bolong yang sangat pendek, sengaja membiarkan kancing atasnya terbuka sedikit lebih rendah saat ia mendongak menatap Erlian.

Erlian hanya menyeringai tipis, jenis seringai yang membuat jantung para penghuninya berdegup tidak keruan. "Kopinya disimpan saja, Van. Nanti kalau saya mampir, kopinya malah jadi dingin karena kita sibuk yang lain," jawab Erlian santai, membuat Vanya tersipu malu sambil menggigit bibir bawahnya.

Pemandangan seperti itu sudah biasa. Hampir semua penghuni kamar 1 sampai 9 selalu mencoba ...

Baca selengkapnya →