Matahari siang itu tidak bersinar. Dia menyengat. Seolah-olah Tuhan sedang memegang kaca pembesar raksasa dan mengarahkannya tepat ke ubun-ubunku yang tertutup helm berbau apek ini.
Aku, Heru, seorang ksatria jalanan berseragam oranye (yang kini warnanya lebih mirip coklat kena debu), memarkir motor bututku di depan sebuah rumah kos-kosan suram di pinggiran kota. Kosan ini memiliki aura mistis, jenis tempat di mana lumut tumbuh subur di tembok da...