Tidak semua kematian meninggalkan kesunyian. Sebagian di antaranya justru meninggalkan suara-suara yang terlalu lirih untuk disebut sebagai bunyi, tetapi terlalu nyata untuk diabaikan. Suara lembaran kertas yang berdesir sendiri di dalam lemari arsip, denting roda troli yang melintas di lorong kosong tanpa seorang pun mendorongnya, atau dengung lampu neon yang tiba-tiba terdengar seperti seseorang sedang membisikkan nama yang tak lagi mampu diingat oleh siapa pun. Barangkali itulah alasan mengapa aku selalu membenci sif malam.
Sebab kesunyian di tempat itu seolah memiliki cara sendiri untuk menghidupkan hal-hal yang semestinya tetap diam. Pada siang hari, segala sesuatu tampak masuk akal. Perawat berlarian membawa map rekam medis, dokter saling bertukar hasil laboratorium, keluarga pasien memenuhi lorong dengan doa-doa yang berdesakan bersama aroma kopi dari kantin. Namun ketika malam tiba dan jam dinding melewati pukul dua belas, bangunan itu seperti melepaskan wajah yang selama ini diperlihatkannya di hadapan manusia.
Aku bekerja sebagai petugas administrasi rekam medis di Rumah Sakit Bhakti Husada selama hampir tujuh tahun. Pekerjaanku terdengar membosankan bagi banyak orang. Mengurutkan berkas berdasarkan nomor registrasi, mencocokkan identitas pasien, memindahkan data lama ke sistem digital, lalu memastikan setiap orang yang pernah dirawat memiliki jejak administratif yang dapat ditemukan kapan pun dibutuhkan. Dalam pekerjaanku, nama bukan sekadar rangkaian huruf. Nama adalah bukti bahwa seseorang pernah hadir, pernah bernapas, pernah menangis kesakitan di atas ranjang rumah sakit, atau pernah pulang dengan senyum yang sedikit lebih lega.
Karena itulah aku segera menyadari ketika sebuah nama menghilang. Berawal dari satu nama. Seorang pasien lanjut usia bernama Surya Adinata dinyatakan meninggal karena gagal napas. Aku masih ingat wajah putrinya yang menangis di depan ruang jenazah, masih ingat tanda tangan dokter jaga pada surat kematian, bahkan masih ingat aroma minyak kayu putih yang memenuhi ruangan ketika keluarga memandikan jenazah sebelum dibawa pulang. Namun dua hari kemudian, ketika pihak asuransi meminta salinan rekam medisnya, berkas itu lenyap tanpa sisa. Nomor registrasinya demikian kosong. Folder fisiknya pun tidak ada. Data digitalnya juga hilang. Seolah-olah pasien tidak pernah menjalani perawatan di rumah sakit itu.
Aku menghabiskan hampir tiga jam memeriksa rak demi rak. Bahkan server cadangan yang biasanya menyimpan seluruh histori pasien. Yang lebih aneh, rekan-rekanku memandangku dengan dahi berkerut ketika aku menyebut nama itu.
"Siapa?" tanya Rina, petugas arsip pagi.
"Surya Adinata."
"Aku rasa tidak pernah ada pasien dengan nama itu."
Ak...