Pukul empat lewat tiga puluh pagi.
Langit masih berwarna gelap ketika azan Subuh berkumandang dari musala kecil di ujung Kampung Sukamaju.
Suara itu tidak terlalu keras.
Namun cukup untuk membangunkan Faris, pemuda berusia dua puluh empat tahun yang sudah beberapa bulan terakhir tinggal sendirian di rumah peninggalan ibunya.
Dengan mata yang masih berat, ia meraih ponsel di samping bantal.
Alarm sudah berbunyi sejak lima menit lalu.
Ia mematikannya.
Lal...