Langit yang Kutuju, Bukan yang Kutunggu

Oleh: Ulva Idaryani Daulay

Langit yang Ku tuju, Bukan yang Kutunggu

Aku lahir sebagai anak tunggal dari keluarga sederhana. Ayahku seorang buruh tani, sedangkan ibuku adalah perempuan yang hampir tidak pernah lelah mengingatkanku untuk belajar.

Sejak kecil, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan yang bisa mengubah hidup kami. Aku tidak punya banyak pilihan selain berusaha lebih keras dari orang lain.

Waktu SD sampai SMP, aku selalu menjadi juara kelas. Di kampungku, orang sering beranggapan bahwa anak-anak yang pintar biasanya anak guru atau anak orang berada. Aku tidak termasuk keduanya. Aku hanya anak buruh tani yang kebetulan tidak mau menyerah.

Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin yang membuatku bertahan bukan karena aku paling pintar. Aku hanya punya ibu yang tidak pernah bosan berkata, "Belajar dulu. Nanti kalau sudah berhasil, hidupmu akan berbeda.

Kalimat sederhana itu menemaniku bertahun tahun. Saat masuk SMA, semangatku justru menurun.

Tidak ada satu pun sahabat SMP yang satu sekolah denganku. Hari-hari pertama terasa asing. Aku melihat teman-teman baru saling bercanda, sementara aku hanya duduk diam di bangku dan berharap jam pelajaran cepat selesai.

Padahal sebenarnya aku anak yang cukup ceria.

Aku suka tertawa.

Aku suka bercanda.

Tapi saat itu aku memilih menj...

Baca selengkapnya →