Lazuardi di Rimba Raya

Oleh: Iman Ali Janovit

    Hujan deras mengguyur setiap rumah di desa, disertai petir yang menyambar, membuat suasana mencekam yang luar biasa. Pohon–pohon yang berdiri tegak, ditumbangkan angin ribut begitu saja. Dahsyatnya sebuah badai membuat penduduk ketakutan. Udara dingin berhembus, menusuk tulang – tulang. Badai telah melanda kawasan ini kurang lebih tiga hari. Kelaparan, persediaan kian menipis. Lebih daripada itu, pertumpahan darah sedang berkelindung tak jauh dari desa. Tak ada seorang pun yang berani pergi mencari persediaan pangan di hutan; mereka takut mati.

   Di sebuah rumah kayu kecil, seorang pemuda duduk sila menatap cahaya lilin. Matanya terus memperhatikan nyalanya api kecil, tak ingin menoleh pada apa pun. Tak lama seorang wanita paruh baya menghampiri pemuda tersebut. “Rasendra lagi apa?” tanya seorang wanita paruh baya. Pemuda yang dipanggil Rasendra itu tak menjawab, seolah dia bisu. “Sudah makan?” Wanita paruh baya itu kembali bertanya, dan seperti tadi Rasendra tidak menjawabnya.

   Wanita itu menghembuskan nafas panjang, kesal dengan perlakuan Rasendra. “Lihat ibu kalo sedang berbicara nak!” Meskipun ibunya sedikit menaikkan nada bicara, Rasendra tetap bisu dan terus menatap lilin. Wanita yang menyebutnya ibu, menepuk-nepuk pundak pemuda yang terus diam. Merasa tak dihiraukan, Ibu Rasendra pergi menuju kamar, namun ketika itu terj...

Baca selengkapnya →