Lazuardi di Ujung November

Oleh: Indah Serene Moon

Telepon di meja belajar bergetar lagi. Panggilan ketiga dari abang dalam lima menit.

Aku tahu apa artinya. Itu adalah gestur repetitifnya, cara diamnya untuk bilang: Pulang, Dek. Ada yang nunggu.

Di luar jendela kafe yang dingin, hujan bulan November turun tanpa henti, membasahi jalanan kota yang tak pernah sepi. Aku mematikan notifikasi. Bukan karena aku membenci keheningan, tapi karena aku takut pada suara yang akan mengikutinya. Suara keretakan, yang belakangan ini menjadi musik latar di rumah kami.

Satya Jingga, abangku. Pria dengan visual bak dewa yang sering disangka idol K-Pop tersesat di Blok M, si lone wolf yang disegani di tempat kerjanya, tapi di rumah, dia adalah pembuat onar terbesar, penguasa dapur, dan pemilik sah bahu terlebar untuk bersandar. Dia adalah jangkar saat badai. Dia yang mengajariku mencintai diri sendiri, orang yang selalu bangga saat aku berhasil melakukan hal kecil, seperti menyelesaikan sketsa pertamaku atau menang lomba makan kerupuk.

Abangku yang kaya, yang duit jajannya selalu on-time masuk rekening, yang tak pernah pelit membelikanku apapun...

Baca selengkapnya →