LILLAH

Oleh: Amrullah Ibrahim

### BAB I: FAJAR, EMBUN, DAN SEBUTIR NIAT

*Menata Hati Sebelum Langkah Pertama Menjejak Bumi*

°˖✧✿✧˖°

"Bekerja bukan sekadar pertukaran antara keringat dan rupiah, melainkan cara seorang hamba mengetuk pintu ampunan dan keberkahan Robb-Nya."

Azan subuh baru saja tuntas merayapi celah-celah ventilasi kamar kontrakan petak berukuran tiga kali empat meter itu. Udara pagi masih menyisakan sisa gigil hujan semalam, membasahi genting-genting seng yang berkarat di sudut gang sempit pinggiran kota. Farhan tidak beranjak dari sajadah usangnya yang telah menipis di bagian sujud. Ia duduk terpekur dalam zikir yang lirih, membiarkan jemari tangannya menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil dengan ketukan yang teratur.

Farhan tidak pernah menganggap dirinya istimewa. Tidak ada darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya, tidak ada warisan berlimpah yang menunggunya, dan paras wajahnya pun tak ubahnya pemuda biasa yang sering berbaur tanpa disadari di gerbong kereta rel listrik setiap pagi. Ia hanyalah anak sulung dari seorang ibu yang kini menjanda di sebuah desa kecil di lereng bukit, dan seorang abang bagi dua adik perempuan yang masih membutuhkan biaya sekolah.

Namun, di balik kesederhanaan lahiriah yang serbaterbatas itu, ada sebutir permata yang selalu dijaganya di palung hati terdalam: satu kata ringkas berkekuatan tak terhingga, 'Lillah'. Karena Allah.

Pagi itu, setelah meneguk segelas air putih hangat dan mengenakan kemeja katun bergaris biru yang sudah disetrikanya semalam suntuk, Farhan berdiri di depan cermin kecil yang terpaku di dekat pintu. Ia membenahi kerah bajunya, mengikat tali sepatu pantofel yang kulitnya mulai mengelupas di sisi samping, lalu menarik napas panjang seraya bergumam perlahan.

"Bismillah. Ya Allah, langkahkan kakiku hari ini bukan semata untuk memburu angka-angka gaji yang fana. Bimbinglah tanganku agar hanya menyentuh yang halal, dan jadikanlah lelahku sebagai penggugur dosa-dosaku di hadapan-Mu."

Rutinitas pagi Farhan adalah potret jutaan anak manusia yang bergelut dengan kerasnya kehidupan urban. Dari gang sempit rumahnya, ia harus berjalan kaki sekitar tujuh ratus meter menuju stasiun komuter. Berdesakan dengan aroma minyak angin, keringat yang mulai menguap, deru napas penumpang lain yang sama-sama tergesa, serta tatapan-tatapan letih yang menatap kosong ke layar ponsel. Di tengah himpitan manusia itu, Farhan sering kali memejamkan mata, membasahi bibirnya dengan istigfar.

Bagi Farhan, niat bukan perkara yang selesai saat diucapkan di bibir. Niat adalah jangkar. Tanpa jangkar yang kuat, perahu kecil hidupnya akan mudah terombang-ambing oleh badai iri hati, kelelahan batin, atau rasa putus asa ketika melihat orang lain tampak begitu mudah melesat meraih kekayaan dunia.

Farhan bekerja sebagai staf administrasi logistik di sebuah perusahaan distributor alat kesehatan. Ruang kerjanya berada di lantai dua gudang yang berdebu, bising oleh deru forklift dan teriakan para kuli bongkar muat di bawah. Tugasnya rumit dan menuntut ketelitian tinggi: memeriksa surat jalan, mencocokkan faktur tagihan dengan barang masuk, dan memastikan tidak ada satu pun selisih nominal pada laporan akhir bulan.

Sebagian rekan kerjanya menganggap pekerjaan itu membosankan dan melelahkan. Sering kali terdengar keluhan di pantry kantor saat jam istirahat. "Gaji pas-pasan, kerjaan macam kuli tinta. Kalau bukan karena cicilan motor, aku sudah kabur dari sini," ujar seorang kawannya mengeluh.

Farhan hanya tersenyum tipis mendengarnya tanpa menghakimi. Dalam benaknya, ia memahami betapa beratnya tekanan ek...

Baca selengkapnya →