Mata yang Hilang

Oleh: Titin Widyawati

Tangan Okta mengepal di garis celana, ia mengembuskan napas beratnya yang diselingi udara pagi. Ada kata yang tak dapat diucapkan, ada sebaris kalimat yang hendak dimuntahkan, namun perasaannya sudah kelu, tak tahan menanggung malu yang bertubi-tubi. Mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, ia menatap sekilas dari balik tirai jendela kemudian melanjutkan menyapu ruang tamu. Okta memandang kepergian ayahnya dari teras rumah yang dihuni sepi sepanjang waktu. Fajar pamit pulang, warna kuning dan jingga menaburkan keindahan di langit Timur, lentera matahari jatuh pada pucuk daun di pinggiran-pinggiran kota. 

“Ayah! Setiap orang pernah berbuat salah! Tak baik jika terus meratapinya!”

Punggung Ayah hilang. Ia ber...

Baca selengkapnya →