"Tunggu Mbak Kal pulang, nanti kita beli sepatu."
Mbak Kal dimana? Aku gak sabar ke toko sepatu, gak usah beli sepatu kok, tapi pergi berdua sama Mbak Kala udah cukup.
"Iya, nanti, tunggu Mbak Kal pulang, kita makan disana."
Mbak Kal dimana? Aku gak sabar makan bersama di restoran itu sama Mbak Kala.
"Beliin Mbak Kal baju kaos itu juga ya, Mbak Kal suka warnanya."
Mbak Kal dimana? Baju kaosnya udah lama dibeli, udah aku susun rapi juga di lemari baju Mbak Kala.
Aku benar-benar mencari Mbak Kala, aku rindu. Mbak Kala yang selalu terlihat senang dan tenang. Rumah terlalu sepi ketika Mbak Kal tidak ada.
Pikirku, selama ini, seumur hidup Mbak Kal, semua yang dikatakan dan tunjukkan adalah hal yang memang benar adanya, makanya aku selalu percaya bahwa Mbak Kal benar baik-baik saja.
Tapi...
"Mbak Kal sehat-sehat aja."
Kalimat yang aku percayai waktu itu, seperti hari-hari sebelumnya ketika Mama menanyakan kabar Mbak Kal di setiap harinya.
Mbak Kal selalu terlihat kuat sehat, seakan tidak ada yang menganggu badan Mbak Kal.
"Kala mau pulang, tungguin Kala pulang ya."
Mama senang sekali setiap Mbak Kal mau pulang, aku pun senang sekali. Apalagi saat setelah Mbak Kala sekian lama tidak pulang ke rumah karena ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa tinggal.
Waktu itu, saat Mbak Kala pulang ke rumah, rasanya benar-benar berbeda, sampai-sampai tidak rela untuk Mbak Kal kembali pulang bekerja, aku tidak tau kalau itu terakhir kali Mbak Kala pulang ke rumah.
"Kala sebentar aja, seminggu lagi udah harus pulang lagi." Ucap Mbak Kala yang duduk bersender...