Pagi itu kota masih setengah terjaga. Langit berwarna abu-abu, dan suara kendaraan mulai menumpuk seperti pikiran di kepala manusia yang belum sempat berdoa. Aku berdiri di balkon lantai tiga, memegang secangkir kopi yang sudah dingin. Di kejauhan, kubah masjid terlihat samar, setengah tertutup gedung-gedung tinggi yang tumbuh seperti ambisi—cepat, rapat, dan saling menutupi.
Ayah pernah berdiri seperti ini juga, bertahun-tahun lalu. Bedanya, ayah berdiri di teras rumah sederhana, memandang sawah yang belum ditelan beton. Aku masih kecil saat itu, terlalu sibuk bermain untuk memperhatikan apa yang ayah pikirkan. Sekarang aku men...