Berat sekali hawa pagi ini. Mendung berarak rendah di langit seperti preman tak sabar mau merangsek antrian. Angin sesekali bertiup kencang mengangkat sebilah seng di atap rumah lalu menghempaskannya kembali menyabetkan suara keras, kering, tak tahu aturan. Bunyi keras orang bersin di rumah sebelah melonjakkan jantung dan memicu gatal tangan untuk menembaknya. Hati resah, kemrungsung, berputar galau bak angin puting beliung berputar lalu menancap tepat di pesan Whatsapp di layar ponsel: “Aku ndak usah dijemput. Sudah ada yang mengantar.”
Blegar menggertakkan rahangnya. Matanya nanar menatap layar ponselnya.
“Dijemput siapa, Lig?” cepat jemarinya membalas pesan itu.
Pesa...