Rumah luas. Mobil cukup mewah. Harta tersedia walau tak melimpah. Tapi tetap saja Briko belum puas.
Ia perlu seorang istri.
Bulan depan ia akan genap lima puluh tahun. Ibunya yang sudah lanjut usia makin sering bertanya kapan ia menikah. Briko tercenung. Pertanyaan yang sama dicecarkan sang ibu nyaris dua puluh tahun silam. Ketika itu, Briko masih bisa mengemukakan alasan masuk akal: studi lanjut dan membina karir. Tapi masa itu sudah terlewati. Gelar dan karir sudah dicapainya dengan nilai AB. Kini pertanyaan itu kembali dicecarkan sang ibu. Usia kamu sudah setengah abad, kata beliau. Segera cari istri ata...