Tubuhku berguncang—entah masih patutkah kusebut seluruh bagian dariku kini sebagai tubuh—ketika mataku bertemu pandang dengan perempuan Kaili itu. Dalam balutan gaun kusam dengan warna ungu yang pudar, dia berdiri tanpa teman di tepi Anjungan Pantai Talise yang porak poranda. Mimiknya yang hambar membuatku merasa terkhianati; tidak tahukah dia bahwa aku mengkhawatirkannya sampai setengah mati. Tapi dua manik matanya yang sewarna tanah tak per...