Mirip Siapa?

Oleh: arunika sekar

“Ini anaknya mbak? Kok beda? Nggak mirip sama bundanya.”

Ucapan itu meluncur ringan dari bibir Jeng Nita, setajam silet yang dibungkus tawa.

Kami berdiri di lorong buah impor, di bawah lampu supermarket yang terlalu terang untuk Kilau apel Washington dan anggur tanpa biji seolah ikut menjadi saksi kecil percakapan yang sebenarnya tidak kecil sama sekali.menyembunyikan ekspresi siapa pun.

Rania mencolek pinggangku pelan. Sentuhan itu seperti kode rahasia: Aku dengar, Bun. Aku tahu. Cemberutnya tak bisa...

Baca selengkapnya →