Kupandangi lagi undangan itu.
Kertas berwarna krem dengan tulisan emas yang berpendar terkena cahaya lampu meja apartemenku di Berlin, diantar teman yang ikut program Doppelabschluss, Dual Degree Program. Sudah hampir satu jam undangan itu berada di tanganku, namun aku masih membaca nama yang sama berulang-ulang seolah berharap huruf-huruf itu bisa berubah.
Namamu, dan nama laki-laki yang akan menjadi suamimu.
Di bagian bawah undangan itu ada pesan ...