Nala figur sederhana, tak ramai kelilingnya, ’92 lahirnya. Suara merdu sang pemilik lagu mengalun indah di saat emosi hampir tak sanggup kukuasai, hanya dengan dua kata itu hatiku luluh lantah.
Dua jam yang lalu, kursi, bangku, serta meja di garis pandangku seperti tak bermilik, kosong walaupun dedaunan kering kerap menyapa. Aku menatap malas sambil memainkan sedotan di dalam gelas yang tak berisi. Kua...