Nama Terakhir

Oleh: Indah Leony Suwarno

Dunia ini ramai, Kekasihku. Tetapi aku tidak ‘melihat’ siapapun selainmu.

***

1984.

Surai sekelam jelaga itu dibiarkan tergerai di kedua bahunya, topi rajut dengan warna merah muda di kepalanya, menambah keindahan parasnya. Seolah ia tercipta memang untuk dikagumi. Seakan Tuhan sedang tersenyum ketika dirinya diciptakan.

Keberkahan menaunginya, serta keberuntungan menyertainya sepanjang usia.

Sesuai makna dari namanya, Lentera Jiwa, dirinya dipenuhi dengan cahaya hangat yang menentramkan. Dipenuhi semangat yang berkobar dalam jiwanya. Serta paras dahayu yang menyejukkan pandangan.

Di sebuah gazebo kecil di sudut lapangan, Jiwa memasukkan beberapa lembar surat yang isinya berupa tulisan miliknya ke dalam tas selempangnya. Tas itu adalah hadiah dari kekasihnya untuk ulang tahunnya yang ke-23 bulan lalu.

Deru mesin mobil mendekat, sebuah Suzuki Jimny keluaran terbaru tahun itu berhenti tepat di depan gazebo. Seorang pemuda berkaos biru dongker turun, menghampiri Jiwa yang sudah siap dengan tasnya yang tersampir di bahu kanannya. “Maaf terlambat.” Ucap pemuda itu seraya menampilkan deretan giginya yang putih, tersenyum lebar ketika kekasihnya itu mengapit lengannya.

“Dua porsi nasi padang bi...

Baca selengkapnya →