Lampu kafe yang temaram memantul di lensa kacamatanya yang sering kali melorot ke ujung hidung. Hanum tidak peduli. Jari-jarinya yang sedikit ternoda tinta hitam dari pena murahnya terus menari di atas buku catatan kumal. Di layar laptop yang mulai panas, judul "Memeluk Angin" berkedip-kedip, dikelilingi ribuan baris kata yang ia susun dengan keringat dan begadang berbulan-bulan.
Baginya, angka 300 pembaca adalah prestasi besar. Ia hanya pen...