Northern Star

Oleh: Silvarani

Setiap tanggal lima belas, pengembara itu selalu datang dari arah barat.

Mula-mula yang tertangkap oleh mata hanyalah pusaran debu tipis di ujung cakrawala, menari di batas jalan setapak sebelum larut dalam cahaya senja yang mulai sekarat. Lalu, sosok penunggang kuda kelabu itu akan muncul seutuhnya. Orang-orang kota sudah terbiasa menghafal ritme kehadirannya. Anak-anak yang bermain di tepi jalan akan menepi dengan patuh, memberi ruang pada sunyi yang berwibawa. Beberapa pelanggan kedai bahkan dapat menebak jam dengan tepat hanya dari sekilas pandang pada ketukan ladam kudanya.

"Pengembara itu datang lagi," desis seorang pelanggan di sudut...

Baca selengkapnya →