Orang Talang

Oleh: Eki Saputra

Hampir malam ketika Emilia Kontesa memacu motor anyarnya setengah edan melintasi jalan di depan gubuk Lena Tertiara. Pada saat itu, Lena Tertiara sedang mencangkung tenang, mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh serampang di sekitar parit rumahnya. Ia nyaris tertungging masuk ke dalam selokan lantaran temas tertabrak Emilia Kontesa yang mengemudi bagai orang yang sawan babinya sedang kumat.

"Urusan apa betina itu ke rumah Wak Koni," gumam Lena Tertiara. Matanya yang bulat besar menerawang ke arah rumah panggung di arah lebak dusun. Biasanya tak banyak urusan orang mendatangi rumah pria tua itu, selain urusan tebas-menebas kebun, menempa keruntung dan ambung, atau meminta jampian temas-temas. Namun, menurut pemikiran Lena Tertiara, mustahil dia sebegitu panik dan takutnya hanya karena perkara ingin menempa ambung. Pasti alasan besar membuat orang talang itu begitu gusar, pikir Lena Tertiara. Dia menerka-nerka alasan di balik kegelisahan Emilia Kontesa. Namun dia benci kalau mengingat-ingat siapa perempuan itu.

Emilia Kontesa dulu adalah karibnya. Mereka berkawan sudah sejak lama sekali. Bukan setahun dua tahun ia mengenal perempuan itu. Sebelum dia menjadi selangguk sekarang, Lena Tertiara tahu benar dahulu perempuan bermuka jebab dan bermuncung besar itu besar-besar di Tanjung Harapan: Sebuah talang terpencil di dalam Dusun Tanjung Batu. Talang yang penghuninya tidak lebih dari tiga belas rumah duduk dengan bentuk kotak serupa tanur bata. Dan, Emilia Kontesa, adalah putri satu-satunya dari peri...

Baca selengkapnya →