Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati
Ruang tamu rumah kami pukul dua dini hari selalu terasa seperti ruang sidang yang dingin. Di bawah temaram lampu gantung kristal yang redup, keheningan membungkus kami berdua seperti kain kafan.
Istriku, Arini, duduk tenang di sofa tunggal. Tidak ada derai air mata. Tidak ada jeritan histeris. Hanya ada sebuah cangkir teh yang sudah dingin di atas meja kayu jati, dan sebuah ponsel yang tergeletak pasr...